Penyebab Lain Keruntuhan Majapahit
Penyebab Lain Keruntuhan Majapahit
Kegemilangan Majapahit ditutup dengan rentetan peristiwa berdarah. Situs
kota Majapahit di Trowulan, dulunya pernah ditinggalkan penduduknya karena
perebutan kekuasaan menjelang runtuhnya kerajaan itu.
“Semacam bedol desa memang benar, bahwa memang perebutan kekuasaan di
Jawa selalu berdarah-darah. Jadi, kalau satu kedaton ditundukan, itu hancur
habis,” jelas arsitek dan arkeolog, Osrifoel Oesman dalam diskusi Omah-Desa-Kuto
Majapahit Trowulan, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (11/7).
Sepeninggal Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada, Majapahit mulai
meredup. Sebelum menjadi semakin lemah akibat menguatnya kekuatan Islam Demak,
pertentangan di tengah keluarga kerajaan telah lebih dulu membuat Majapahit
goyah.
Osrifoel, yang akrab dipanggil Ipul, menjelaskan bahwa sumber tradisi
menyebut Majapahit runtuh tahun 1478 pada masa pemerintahan Girindrawarddhana
akibat serangan kerajaan Islam Demak. Tahun itu berdasarkan
candrasengkala Serat Kanda yang menyebut sirna ilang
kertaning bumi yang berarti 1400 saka atau 1478 M. Padahal, setelah
itu masih ada bukti-bukti sejarah yang menunjukkan Majapahit masih ada.
Dalam Masa Akhir Majapahit, arkeolog dan epigraf, Hasan
Djafar menyebutkan adanya prasasti-prasasti dari Raja Girindrawarddhana. Pada
masa pemerintahan Girindrawarddhana antara 1408-1433 saka juga masih ada
kegiatan pembangunan tempat suci bercorak Hindu di lereng Gunung Penanggungan.
Hasan menafsirkan bahwa apa yang disimpulkan dalam candrasengkala itu lebih
menunjukkan peristiwa gugurnya Bhre Krtabhumi di Kedaton akibat serangan
Girindrawarddhana.
Soal kapan runtuhnya Majapahit, petunjuk lain bisa diambil dari berita
Antonio Pigafetta, seorang penjelajah Venesia, Italia. Pigafetta menyebut Pati
Unus sebagai Raja Majapahit yang sangat berkuasa ketika masih hidup. Pati Unus
meninggal pada 1521. “Kami berpendapat antara tahun 1518-1521, kira-kira pada
1519, Pati Unus telah menguasai Kerajaan Majapahit,” tulis Djafar.
Dengan dikuasainya Majapahit oleh Pati Unus, kerajaan itu telah hilang
kedaulatannya. Maka, tahun 1519 bisa dianggap sebagai saat keruntuhan Majapahit
yang sebenarnya. Meski begitu, penyebab keruntuhannya dapat dipandang bukan
hanya akibat serangan Demak tapi adanya perebutan kekuasaan antara keluarga
raja.
Djafar berpendapat tindakan Pati Unus, sebagai penguasa Demak, dapat
dipandang sebagai perjuangan seorang penguasa daerah untuk menguasai Majapahit.
Sebab, Demak merupakan salah satu daerah kekuasaan Majapahit. Para penguasanya,
menurut Babad Tanah Jawa dan Serat Kanda, adalah
keturunan Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V.
Raden Patah, pendiri Kerajaan Islam Demak, adalah anak Prabu Brawijaya,
raja terakhir Majapahit. Oleh karena itu, serangan Pati Unus, anak Raden Patah,
dapat dianggap sebagai upaya keturunan raja Majapahit merebut haknya atas
takhta kerajaan.
“Ini menimbulkan polemik Islam menyerang Hindu, padahal didahului
perebutan kekuasaan,” ujar Osrifoel.
Selain perebutan kekuasaan, faktor agama tak bisa dikesampingkan sebagai
pendorong runtuhnya kerajaan besar itu. Meski menjadi bagian dari Majapahit,
namun Demak telah sepenuhnya berlandaskan Islam. Hal ini yang juga mendorong
Demak untuk berusaha lepas dari pengaruh Majapahit yang “kafir”.
Kesimpulan :
Menarik untuk membuat garis kesimpulan. Bahwa keruntuhan
Majapahit bakan semata karena Imperium kerajaan islam demak, tapi di dahului
dengan perebutan kekuasaan di lingkaran keluarga kerajaan.
Komentar
Posting Komentar