Apa Itu Stress dan Cara Mengatasinya
Apa
Itu Stress dan Cara Mengatasinya
Apa itu Stres?
Secara
sederhana, stres adalah perasaan terganggu, terusik, atau terancam subjektif
yang timbul karena adanya gangguan dari lingkungan seseorang. Segala
bentuk gangguan yang (berpotensi) menimbulkan stres disebut dengan stressor, seperti:
·
binatang
yang kita takuti tiba-tiba muncul di kamar,
·
suara
berisik,
·
adegan
menyeramkan di film horor,
·
antrian
dipotong,
·
berjalan
di tempat tinggi,
·
nembak
gebetan,
·
masalah
keuangan,
·
tugas dan
ujian sekolah,
·
presentasi
di depan umum,
·
konflik
dengan orang terdekat,
·
dll.
Pokoknya stressor adalah segala hal yang bisa membuat kita
merasa terganggu. Mulai dari hal remeh seperti suara berisik tetangga hingga
masalah besar yang berpotensi merusak kehidupan seseorang.
Bisakah Kita Hidup Tanpa Stres?
Kita
tidak hidup sendiri. Kita adalah bagian dari sistem kehidupan. Sebagai individu
yang memiliki kebutuhan dan hidup bersama dengan milyaran makhluk hidup lainnya
di lingkungan yang dinamis, adalah sebuah kegilaan untuk berharap segala hal
secara ajaib berjalan sesuai keinginan kita. Stres tidak bisa dihindari.
Tapi stres bukanlah hal yang mutlak negatif. Stres merupakan
mekanisme penting untuk bertahan hidup dan bisa memotivasi kita dalam
menghadapi tantangan atau kegiatan sehari-hari.
Gimana Tubuh Kita Merespon Stres?
Ketika
kita merasa terancam atau bahaya, entah itu nyata atau masih imajinasi saja,
tubuh menjadi siaga dan mengaktifkan mekanisme “stress response”.
Sistem stress response akan mengeluarkan beberapa
senyawa stress mediators. Senyawa tersebut antara lain:
·
hormon
noradrenalin
·
hormon
adrenalin
·
hormon
kortisol
Selain
di stress response, hormon noradrenalin dan adrenalin
berperan di berbagai proses tubuh lain. Berbeda dengan kortisol yang khusus
dikeluarkan dalam mekanisme stress response. Makanya,
kortisol sering juga disebut sebagai hormon stres.
Apa sih
gunanya kortisol si hormon stres ini?
Ketika
belajar tentang sistem pencernaan, kita tau kalo gula atau glukosa adalah
sumber energi yang vital untuk manusia, terutama untuk otak.
Kortisol di sini berperan untuk meningkatkan suplai glukosa dalam darah yang
kemudian di-convert menjadi energi. Bersama dengan noradrenalin
dan adrenalin, hormon kortisol membuat konsentrasi kita menjadi tajam, pacu
jantung dan tekanan darah pun meningkat saat kita merasa terancam/stres.
Stres
adalah mekanisme bertahan hidup yang “dikembangkan” secara biologis sejak zaman
nenek moyang. Salah satu ancaman utama manusia primitif adalah binatang buas.
Misalnya, seorang manusia purba tiba-tiba ketemu dengan seekor ular. Ia pun
merasa terancam (stressor). Sistem stresnya
teraktivasi, keluarlah hormon stres (kortisol). Sistem
simpatiknya juga teraktivasi, keluarlah hormon adrenalin dan
noradrenalin. Kombinasi kerja ketiga hormon ini membuat detak jantung meningkat
sehingga ia bisa berbuat sesuatu (fight or flight response)
Kapan Stres Tidak
Menguntungkan Lagi?
Stres berdasarkan durasinya bisa dibedakan menjadi 2
jenis, yaitu:
Stres Akut
Stres akut adalah stres yang dialami dalam waktu
singkat dan respon tubuh kembali normal. Misalnya, saat ketemu ular tadi, si
manusia purba memutuskan untuk kabur. Setelah memastikan keadaan aman, ia tidak
merasa terancam lagi. Stres reda.
Konsentrasi
kortisol akan mencapai maksimal setelah 15-30 menit dan menurun perlahan 60-90
menit setelahnya. Inilah yang disebut dengan mekanisme
adaptasi (coping)
yang efektif: respon stres aktif dengan cepat ketika dibutuhkan untuk
menghadapi stressor dan
mereda setelahnya.
Stres Kronis
Stres kronis
adalah kondisi di bawah stres minimal 3-4 minggu dan setelahnya si penderita
jadi reaktif terhadap berbagai stressor. Misalnya,
ketika seseorang kuliah di jurusan yang ga bikin nyaman atau tinggal di rumah
yang selalu dipenuhi dengan adu mulut. Ia terekspos stressor itu terus-menerus dalam jangka waktu
yang lama. Dia pun jadi sensitif dengan banyak stressor lain.
Kok bisa gitu?
Seperti yang
dipelajari di Sistem Regulasi di kelas 11 SMA, kita tau kalo hormon
beredar di pembuluh darah. Hormon kortisol keluar dan beredar di pembuluh
darah, sama seperti hormon-hormon lain dalam tubuh. Kortisol membutuhkan
reseptor untuk bisa berfungsi. Dua reseptor penting yang berperan dalam proses
stres adalah Mineralocorticoid Receptor (MR)
dan Glucocorticoid Receptor (GR).
Ketika orang
stres dalam jangka waktu yang lama, kedua reseptor kortisol akan teraktivasi
terus-menerus sampai akhirnya terjadi ketidakseimbangan jumlah kedua reseptor
(MR/GR imbalance). Ketidakseimbangan kedua resptor inilah
yang menyebebakan gangguan homeostasis di dalam otak. Akibatnya, terjadi
kegagalan mekanisme adaptasi: timbul gangguan dalam menyikapi stres. Pada
titik inilah stres bisa menyeret orang ke gangguan psikologis lainnya, seperti
gangguan kecemasan (anxiety),
depresi, Alzheimer, dan lain-lain.
Kenapa Reaksi
Orang-Orang Berbeda Terhadap Stres?
Seperti yang disebutkan di awal, stres
adalah reaksi yang SUBJEKTIF.
Ada yang
langsung stres melihat kamar yang berantakan. Ada yang santae ae.
Ada yang gugup saat harus tampil di depan banyak orang. Ada yang malah bersinar under the spotlight.
Ada yang bisa mengatasi tekanan saat ujian berlangsung. Ada yang malah tidak bisa perform sama sekali ketika ujian berlangsung.
Ada yang gugup saat harus tampil di depan banyak orang. Ada yang malah bersinar under the spotlight.
Ada yang bisa mengatasi tekanan saat ujian berlangsung. Ada yang malah tidak bisa perform sama sekali ketika ujian berlangsung.
Kenapa kok reaksi orang terhadap stres bisa
berbeda-beda?
Wah, banyak faktor yang mempengaruhi kapasitas orang
dalam menanggapi stres. Mudah untuk berpikir bahwa kapasitas ini banyak
dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Tapi ketika kita tahu bahwa stres adalah
respon biologis tubuh, faktor biologis pun berperan dalam mempengaruhi
kapasitas seseorang bereaksi terhadap stres, mulai dari jenis kelamin, usia,
latar belakang pendidikan, lingkungan, gaya hidup, dan lain-lain.
Jenis Kelamin dan Stres
Salah satu penemuan menarik adalah pengaruh jenis
kelamin pada respon stres. Ada banyak data penelitian yang menunjukan bahwa respon
stres lebih besar pada perempuan daripada laki-laki. Hal ini disebabkan karena
pada perempuan hormon stres lebih gampang dibentuk dan beredar di sirkulasi
daripada laki-laki. Hormon seksual perempuan juga diduga mempengaruhi respon
stress. (Goel N 2014)
Jam Biologis
Faktor lain yang cukup menarik adalah irama circardian
atau jam biologis seseorang. Orang dengan gangguan tidur, dinas malam, sering
berpergian dan mengalami jetlag; memiliki kemungkinan yang lebih besar
menderita gangguan terkait stres ketimbang orang yang tidur teratur dan bekerja
di siang hari dan tidur di malam hari.
Stres
pada Masa Kandungan (prenatal stress)
Stres saat kehamilan dapat memberi dampak yang buruk
bagi janin yang dikandungnya. Hal ini dikarenakan kortisol juga dapat menembus
plasenta dan mempengaruhi perkembangan janin. Berdasarkan studi pada binatang,
stres pada kehamilan menyebabkan gangguan kognitif, meningkatkan kecenderungan
penyalahgunaan obat, dan berkaitan dengan gangguan kecemasan dan depresi si
janin yang dilahirkannya.
Stres
pada Usia Muda (Early Life Stress)
Masa kanak-kanak adalah waktu yang penting untuk
perkembangan otak. Pembentukan sel-sel saraf atau neurogenesis juga sangat
aktif dalam usia muda. Berbagai penelitian pada binatang menyimpulkan bahwa gangguan
pada masa kanak-kanak, trauma psikologis ataupun fisik memiliki pengaruh yang
penting dalam perkembangan fungsi dan struktur otak sampai pada usia dewasa.
Salah satu
penelitian yang terkenal adalah eksperimen maternal deprivation pada binatang. Pada eksperimen ini, bayi mencit/tikus
dipisahkan dari induknya selama 24 jam. Selama 24 jam, bayi tikus akan
kehilangan kontak fisik dengan induknya sehingga mengakibatkan aktivasi respon
stress. Ketika bayi ini mencapai usia dewasa, ditemukan kelainan pada struktur
otak yang berperan penting dalam stress (hippocampus) dan
ambang batas hormon kortisol yang lebih mudah teraktivasi dibandingkan dengan
binatang yang tidak dipisahkan dengan induknya ketika masih bayi.
Gimana Cara Mengatasi
Stres?
Sekarang kita
masuk ke pertanyaan utama yang ditunggu-tunggu, gimana cara mengatasi stres?
Kita perlu manajemen stres yang baik. Manajemen stres BUKAN bertujuan untuk
menghilangkan stres. Ingat, stres adalah bagian dari kehidupan. Stressor ada di mana-mana.
Manajemen stres bertujuan
membuat kita jadi lebih baik dalam menghadapi stres.
Stres bukan
sekedar masalah emosi. Stres adalah respon biologis. Oleh karena itu, dalam me-manage stres, kita sebaiknya mengambil perspektif
biologis dan neurosains. Gimana cara meredam hormon stres agar tidak
terus-terusan menimbulkan ketidakseimbangan di dalam tubuh?
Nah, beberapa tips berikut ini adalah langkah-langkah
yang udah terbukti secara ilmiah mengurangi dampak stres bagi tubuh. Dengan
kata lain, langkah-langkah di bawah ini udah terbukti bisa “mengakali” kerja
kortisol, noradrenalin, dan adrenalin. Baik dengan cara menurunkan kadar
kortisol serta menurunkan pacu jantung dan tekanan darah. Ataupun dengan
mengeluarkan hormon-hormon kesenangan (endorphin dan oksitosin) yang dapat menetralkan
efek hormon stres.
Langkah-langkah
di atas diharapkan bisa menenangkan pikiran orang stres. Tapi tidak akan
menyelesaikan masalah. Langkah-langkah di atas “hanya” bikin rileks. Ketika
tubuh dan pikiran udah rileks, baru deh kita bisa lebih siap dan tenang
mengatasi si sumber masalah, facing the “devil”.
Nah, gimana cara mengatasinya? Tentunya, solusi untuk
tiap permasalahan itu unik bergantung dengan kondisi diri dan lingkungan. Tapi
di sini, gw akan berbagi tips untuk memudahkan mencari solusi masalah, biar ga
galau sendiri.
1. Ubah cara pandang
terhadap stres
Banyak banget orang yang langsung kelabakan ketika
berhadapan dengan masalah yang membuatnya stres. Merasa hidup ini ga adil. Atau
bahkan menganggap dirinya manusia gagal.
Sebuah penelitian menunjukkan orang
yang mengalami banyak stres dan percaya bahwa stres berdampak buruk bagi kesehatannya,
punya risiko kematian 43% lebih tinggi. Di sisi lain, orang yang mengalami
banyak stres tapi tidak memandang stres sebagai sesuatu yang buruk, punya
risiko kematian yang rendah, bahkan lebih rendah dari orang yang mengalami
sedikit stres.
So, can stress kill you? Only if you believe it can.
Ketika lo
menghadapi stressor, jantung lo berdegup
kencang, nafas jadi cepat dan ga teratur, badan lo keringetan. Mungkin lo
terbiasa mengangapnya sebagai tanda kalo lo ga merespon tekanan yang ada dengan
baik. Tapi gimana kalo memandangnya sebagai tanda bahwa tubuh lo mengumpulkan
kekuatan untuk menghadapi tantangan yang ada? Jantung yang berdegup kencang
berarti menyiapkan lo untuk beraksi. Nafas yang menjadi cepat berarti tubuh
memasok oksigen lebih banyak ke otak. Itu semua cara tubuh untuk membantu lo
bangkit menghadapi tantangan yang ada.
Ingat, stres
adalah bagian dari kehidupan. Stressor ada
di mana-mana. Ingat pula, kapasitas tiap orang dalam menghadapi stres itu
berbeda. Dengan menyadari dalam-dalam hal ini, justru seharusnya kita sadar
kalo kita butuh stres untuk memaksimalkan potensi diri. Kita jadi bisa mengubah
stres dari musuh menjadi “teman”. Kita jadi bisa memanfaatkan stres untuk
meningkatkan kualitas diri ke level yang mungkin ga terbayangkan sebelumnya.
2. Kenali diri lebih baik
dan lakukan persiapan yang matang
Oke, ketika lo
udah bisa rileks dan punya sudut pandang yang lebih baik tentang stres, what’s next?
Kita tau kalo kita ga bisa berpikir jernih di bawah
kondisi stres. Jadi, jangan cuek dan membiarkan logika yang bengkok itu
mengambil kendali di saat-saat penting.
Seorang psikolog
bernama Gary Klein mengusulkan prospective
hindsight. Mumpung masih dalam keadaan normal, kita sebaiknya
memikirkan segala skenario terburuk yang mungkin terjadi saat berhadapan
langsung dengan stressor. Lalu, siapkan strategi
untuk tiap kemungkinan skenario yang ada. Jika skenario tersebut benar-benar
terjadi, kita tinggal mengeksekusi strategi yang sudah direncanakan sejak awal.
Untuk bisa
memikirkan skenario terburuk yang mungkin terjadi, tentunya kita harus
mengenali diri sendiri. Misalnya nih, lo selalu nervous ketika menghadapi ujian besar, seperti
ujian nasional atau SBMPTN. Nah, coba lo pikirin deh hal-hal apa aja yang
berpotensi membuat lo pribadi terusik.
·
Apa khawatir waktu yang tersedia ga cukup buat
ngerjain semua soalnya?
·
Apa
suka sakit perut tiba-tiba di tengah ngerjain soal?
·
Apa
ga bisa konsen kalo ruangan ujiannya dingin?
·
Dan lain-lain.
Trus siapkan deh cara tepat untuk mengatasi kepanikan
kita jika hal tersebut terjadi sesuai dengan kepribadian lo.
·
Ikut try out rutin supaya bisa bikin manajemen
waktu yang baik dalam menjawab soal pas ujian dan jadi terbiasa dengan suasana ujian.
·
Rencanakan
menu sarapan yang cukup membuat berenergi tapi tidak bikin sakit perut.
·
Siapkan
jaket atau sweater untuk mengantisipasi ruangan yang dingin.
·
Dan lain-lain.
Jika kita tidak
tahu bagaimana cara menenangkan diri dalam menghadapi presentasi, ujian,
atau deadline, biasanya kita malah akan semakin memperparah
ke-stres-an kita dan semakin tidak bisa berkonsentrasi atau bahkan black out. Akan lebih baik kalau mengenali diri
sendiri dan kelemahan kita, mempersiapkan segala sesuatu dengan baik.
3. Manfaatkan lingkungan
sosial
Pernah dengar
hormon oksitosin? Mungkin lo pernah denger kalo oksitosin adalah attachment hormone / love hormone / cuddle
hormone, dsb. Yep, oksitosin
biasanya dikeluarkan tubuh ketika kita memeluk, berinteraksi, atau sedang bonding dengan orang yang kita sayangi. Oksitosin
adalah hormon yang membuat kita dekat dan peduli dengan orang lain, entah itu
orang tua, pasangan, saudara, sahabat, dan anak.
Ketika kita
stres, tubuh kan merespon dengan mengeluarkan kortisol. Yang jarang diangkat
adalah ternyata di saat yang bersamaan, tubuh juga mengeluarkan hormon
oksitosin. Artinya, secara biologis, tubuh meminta kita untuk share masalah kita ke orang terdekat. Ketika kita
merasa tertekan, kadang rasanya ingin memendam segala kegalauan itu sendiri.
Tapi ternyata, tubuh justru meminta kita mencari dukungan sosial ketika sedang
stres. Ketika hidup menjadi sulit, respon stres
alamiah tubuh ingin kita dikelilingi oleh orang yang peduli sama kita.
Amazing ga sih, respon stres alamiah kita sudah
punya mekanisme sendiri untuk mengatasi stres. Dan kuncinya ada di human connection. Jadi, janganlah menyangkal
insting biologis itu. Jika seseorang dalam kondisi stres mengisolasi dirinya
sendiri, besar kemungkinan untuk makin terjerumus di dalam perasaan stres itu.
Di sinilah keluarga dan sahabat berperan penting untuk
menangani stress. Jika ada masalah yang tidak bisa diselesaikan sendirian,
carilah orang lain untuk membantu menyelesaikan masalah ataupun sekedar
berbagi.
4. Mencari bantuan
profesional
Jika masalah
yang dihadapi terlalu berat, jangan ragu-ragu untuk meminta bantuan
profesional, yaitu para ahli kesehatan mental. Gw sarankan untuk mengunjungi
psikolog terlebih dahulu. Jangan sampe ketuker dengan psikiater ya. Psikolog
itu lulusan jurusan Psikologi, sedangkan psikiater adalah dokter medis yang
punya spesialisasi Kedokteran Jiwa. Psikolog umumnya fokus ke aspek sosial,
mulai dari curhat, membantu klien mencari solusi, dan melakukan terapi
psikologis. Di sisi lain, sebagai dokter, seorang psikiater memiliki “wewenang”
memberikan obat untuk kasus-kasus yang lebih rumit, seperti hiperaktif,
halusinasi, schizophrenia, dan
ketidakseimbangan otak lainnya.
Kesimpulan
Stres adalah hal normal
yang pernah dialami oleh setiap orang. Stres yang normal bisa memberikan dampak positif, misalnya membantu Anda bekerja lebih cepat
ketika sedang mengejar masa tenggat waktu. Namun hati-hati, kondisi stres bisa
berdampak negatif jika sering terjadi dan berkepanjangan. Stres bisa dibagi
menjadi dua jenis, yaitu stres eksternal dan internal. Stres eksternal adalah
stres yang sumbernya berasal dari lingkungan sekitar. Hal ini bisa mencakup
trauma, pengalaman hidup, atau masalah sehari-hari. Sedangkan stres internal
adalah stres yang bersumber dari dalam diri kita sendiri dan merupakan jenis
stres yang paling umum.
Sumber
Komentar
Posting Komentar